Welcome

Tuesday, November 8, 2011

Biar Loper Koran yang Penting Jadi Doktor

  Siapa bilang loper koran tidak bisa meraih gelar doktor? Dr Basuki Agus Suparno(39) telah membuktikan itu. Menempuh pendidikan tinggi tidak melulu bergantung pada faktor finansial. Seseorang dengan kehidupan ekonomi serba kekurangan pun nyatanya mampu menjalani studi hingga jenjang S-3, asalkan mau berjuang untuk mengatasi kondisi serba kekurangan tersebut Hal itu dibuktikan oleh Basuki Agus Suparno, dosen Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Yogyakarta.
Beberapa waktu lalu, Basuki telah diwisuda sebagai doktor bidang komunikasi lulusan Universitas Indonesia. Gelar itu sekaligus mengokohkan dirinya sebagai doktor ke-42 bidang komunikasi di Indonesia. Semangat dan keinginan untuk majulah yang mengantarkannya sukses secara akademis.
Apa yang sudah diraih ayah dua anak ini tidak semudah seperti orang lain yang berkecukupan. Dari sekolah tingkat sekolah dasar (SD) sampai berhasil meraih gelar strata satu (S1) di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Solo, kehidupan Basuki selalu penuh dengan perjuangan. Banyak pekerjaan sampingan yang ditekuni mulai dari loper koran, jual kantong plastik, semir sepatu hingga berjualan gula pasir dari rumah ke rumah. Semuanya ini telah membawanya dapat menyelesaikan bangku kuliah di UNS.
Semua pergulatan melawan nasib tersebut, kata Basuki, tidak lain untuk membantu perekonomian keluarga serta membiayai sekolahnya selepas ayahandanya meninggal dunia. Selepas SMA, pada tahun 1991 anak ke-8 dari 9 bersaudara itu berhasil diterima di jurusan komunikasi fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Solo.

Meski telah berstatus mahasiswa Basuki tidak malu nyambi sebagai loper koran. Keuntungan dari berjualan koran bisa mencapai 300 sampai 6.000 ribu rupiah per hari. Keuntungan itulah yang dipakai sebagai modal untuk membiayai kuliahnya. Hingga akhirnya setelah lulus kuliah Basuki berhasil menjadi dosen di UPN. Semangat Basuki untuk terus meraih pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak pernah pudar. Melalui beasiswa yang diberikan kampusnya, dia berhasil menempuh jenjang S2 dan S3. Setelah berhasil merampungkan pendidikan S3-nya. Basuki mengaku begitu lega. Terlebih jika dia mengenang kembali perjalanan hidupnya pada masa lalu yang serba kekurangan.
Awal Kisah Perjuangan
Kisah pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 6 Mei 1971 itu bermula saat sang ayah almarhum Suwoyo Wiro Sumitro tidak lagi menjadi pegawai di Pabrik Gula Mojo. Pada tahun 1977, bersama ibunya Sugianti, keluarga ini pindah ke Jakarta pada 1978 dan mengontrak rumah di kawasan Kampung Makasar, Jakarta Timur. Sang ayah bekerja sebagai buruh bangunan dan ibu berjualan opak (keripik singkong).
Menurutnya, hasil yang diperoleh kedua orang tuanya sebagai buruh bangunan dan berjualan keripik singkong, ternyata tidak mampu mencukupi biaya kehidupan mereka serta biaya pendidikan anak-anaknya. Sambil sekolah, Basuki kecil terpaksa jual koran dan kantong plastik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Pekerjaan ditekuninya sampai kelas satu SMP Negeri 50, Jakarta Timur.
Saat itulah semua aktivitas Basuki terhenti. Pasalnya, sang ayah meninggal dunia. Keluarga Basuki pun akhirnya kembali ke Sragen. Kepergian ayahnya untuk selamanya, tidak membuat Basuki patah semangat apalagi frustrasi. Justru sebaliknya, pendidikan SMP diselesaikan dengan baik dan dia pun diterima di SMA Negeri 1 Sragen. Sebagai SMA favorit, pria yang suka baca buku-buku politik ini mampu bersaing dengan teman-temannya, meski terbatas buku-buku yang dia miliki.
Gagal Masuk UGM
Seiring semakin banyaknya pelanggan koran dari Basuki, statusnya pun meningkat dari penjualan eceran menjadi loper yang mampu mendapat pelanggan tetap mencapai ratusan orang. Seusai lulus SMA, Basuki mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi (UMPTN) di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Namun, dia gagal diterima.
Kemudian, tahun berikutnya pemuda yang pantang menyerah ini akhirnya bisa masuk ke UNS Surakarta. Dia memilih dua fakultas yakni Kedokteran dan Fakultas ISIP jurusan Komunikasi. Pada 1991 ia memulai  kuliah di jurusan  Komunikasi FISIP UNSd engan biaya dari hasil jualan koran. Cukup banyak koran harian yang dijualnya baik terbitan dari Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. “Selain koran terbitan pagi yang saya edarkan,juga ada terbitan sore ya seperti Sinar Harapan dan Wawasan,” ujarnya.
Setelah meraih gelar sarjana dari UNS, menurut Basuki tidak ada niatnya untuk melamar jadi pegawai negeri sipil (PNS). Ia pun terus menggeluti usaha dagang. Sambil tetap menjadi loper koran, Basuki memulai usaha baru menjadi penyuplai gula pasir dari rumah ke rumah di Kota Sragen. Awalnya bermodalkan 100 kilogram, akhirnya bisa memiliki omzet sampai tiga ton per bulan. Profesi ini dijalaninya sampai akhir 1987.
Pada saat itu, lanjutnya, seorang teman kuliahnya mengajaknya mendaftar sebagai dosen di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Yogyakarta. Setelah melalui tahap tes, pria beristrikan Erni Indriastati ini, awalnya diangkat sebagai asisten dosen dengan gaji sebesar Rp 300.000 per bulan. Tidak lama kemudian, begitu surat keputusan (SK) pengangkatannya turun, Basuki menjadi dosen tetap pada mata kuliah Statistik Sosial dan Pengantar Ilmu Komunikasi. Berkat perjuangan kerasnya, UPN Veteran menyekolahkannya ke jenjang strata dua (S2) di UNS Surakarta dan pada 2008 dia mendapat beasiswa untuk meraih gelar S3 di UI Depok. “Saya tidak menyangka begitu baiknya pemimpin UPN memberikan beasiswa sehingga saya bisa menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar doktor,” tambahnya.

No comments:

Post a Comment